HUBUNGAN
PENGUASAAN KALIMAT EFEKTIF DENGAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS PIDATO SISWA KELAS IX
MTsN ASAMKUMBANG
PROPOSAL
EFNIDA
NPM
13080008
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP)
PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
2. Kedua orang tua penulis.
3. Teman-teman
penulis yang membantu pembuatan proposal ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan proposal penelitian
ini banyak terdapat kekurangan karena penulis masih dalam tahap
pembelajaran. Namun, penulis tetap berharap agar proposal penelitian ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca. Kritik dan saran dari penulisan proposal penelitian
ini sangat penulis harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan proposal penelitian ini.
Untuk itu penulis ucapkan terima kasih.
Padang,
Januari 2016
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Menulis pada dasarnya bukan hanya
sekedar menuangkan bahasa ujaran ke dalam sebuah tulisan, tapi merupakan
mekanisme curahan ide, gagasan atau ilmu yang dituliskan dengan struktur yang
benar, berkoherensi dengan baik antar paragraf dan bebas dari
kesalahan-kesalahan mekanik seperti ejaan dan tanda baca. Menulis adalah sebuah
kemampuan, kemahiran dan kepiawaian seseorang dalam menyampaikan gagasannya ke
dalam sebuah wacana agar dapat diterima oleh pembaca yang heterogen baik secara
intelektual maupun sosial.
Tarigan (1994:4) menyatakan bahwa
menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk
berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan
menulis, penulis harus terampil memanfaatkan struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan
menulis yang diajarkan di sekolah yaitu menulis berita, paragraph, naskah
drama, teks pidato. Dalam beberapa keterampilan menulis tersebut, penulis
menfokuskan pada keterampilan menulis teks pidato.
Menulis teks pidato adalah
pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata dengan memperhatikan ketentuan bahasa,
isi, dan sistematika pidato secara tertulis. Menulis pidato salah satu
kemampuan yang penting dan harus dikuasai oleh siswa. Hal ini disebabkan
kegiatan menulis pidato merupakan kegiatan yang muncul dari gagasan kreatif
yang dapat melatih siswa berkreasi dan bernalar. Selain itu, dalam menulis teks
pidato siswa diharapkan dapat mengungkapkan gagasan-gagasan dan ide-ide
pemikiran semenarik mungkin, serta kalimat yang digunakan adalah kalimat yang
efektif agar tulisannya diterima oleh masyarakat.
Kalimat efektif
sangat berhubungan erat dengan menulis teks pidato, jika siswa tidak mampu menguasai kalimat efektif,
maka teks pidato yang ditulis akan sulit dimengerti oleh
pembaca ataupun pendengar apabila pidato disampaikan pada khalayak ramai.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau
penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di
maksud penulis/pembicara. Abdul Rozak (1990: 8) berpendapat bahwa kalimat
efektif adalah kalimat yang mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu
tergambar lengkap dalam pikiran penerima (pembaca) persis seperti apa yang
disampaikan.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia
di sekolah menengah pertama, siswa dituntut untuk terampil menulis teks pidato.
Hal ini tercantum di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) kelas IX
semester 2 dengan Standar Kompetensi (SK) Menulis ke-12 yaitu mengungkapkan
pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karya ilmiah sederhana, teks
pidato, surat pembaca, Kompetensi Dasar (KD) 12.2, yaitu menulis teks pidato/
ceramah/ khotbah dengan sistematika dan bahasa yang efektif. (Depdiknas, 2006:
56).
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Bahasa Indonesia
di MTsN Asamkumbang Bayang Utara,
yang bernama Murnis, S. Pd., diperoleh informasi bahwa
kemampuan menulis siswa masih rendah. Rendahnya kemampuan menulis siswa
disebabkan beberapa faktor, yaitu: pertama,
siswa kekurangan kosakata
sehingga sulit mengungkapkan ide
dan gagasannya untuk menulis teks pidato.
Kedua, kurangnya penguasaan kalimat
efektif sehingga isi teks pidato yang ditulisnya sulit dimengerti dan tidak
menarik, ketika mereka diminta menulis, masih sering ditemukan beberapa
struktur kalimat yang tidak benar. Sedangkan, menurut beberapa orang siswa
mereka kesulitan dan tidak berminat menulis teks pidato dikarenakan beberapa
faktor, yaitu: pertama, menulis teks
pidato merupakan kegiatan yang sulit, dan membosankan. Kedua, siswa
kurang termotivasi menulis teks pidato karena teknik yang digunakan guru hanya
ceramah serta sarana dan prasarana yang tidak memadai membuat pembelajaran
bahasa Indonesia kurang diminati.
Dari hasil wawancara yang dilakukan
tersebut dapat diketahui bahwa siswa
tidak tertarik dalam menulis teks pidato dikarenakan teknik yang dipakai tidak
menarik hanya berupa ceramah. Sebagai calon guru
bahasa indonesia dituntut lebih kreatif dalam mengajar, seperti pembelajaran
menulis teks pidato. Selain itu,
siswa juga tidak menguasai kalimat efektif. Untuk mengatasi permasalahan siswa
tersebut maka diperlukan suatu teknik yang dapat memancing minat siswa dalam
menulis teks pidato dan siswa lebih memperhatikan dan menguasai keefektifan kalimat yang digunakan
dalam menulis teks pidato supaya apa yang ditulisnya dapat dimengerti oleh
pembaca.
Berdasarkan uraian
diatas, maka penting untuk melakukan penelitian tentang “ Hubungan Penguasaan
Kalimat Efektif Dengan Kemampuan Menulis Teks Pidato Siswa Kelas IX MTsN Asam Kumbang
Bayang Utara”.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis
memperoleh gambaran umum tetang permasalahan pembelajaran keterampilan menulis
bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Permasalahan tersebut di antaranya
sebagai berikut: pertama, siswa
kekurangan kosakata sehingga sulit mengungkapkan ide. Kedua, kurangnya penguasaan kalimat efektif sehingga isi teks
pidato yang ditulisnya sulit dimengerti dan tidak menarik, ketika mereka
diminta menulis, masih sering ditemukan beberapa struktur kalimat yang tidak
benar. Ketiga, menulis teks pidato
merupakan kegiatan yang sulit, dan membosankan. Keempat, siswa kurang termotivasi menulis pidato karena teknik yang
digunakan guru hanya ceramah serta
sarana dan prasarana yang tidak memadai membuat pembelajaran bahasa Indonesia
kurang diminati.
Berdasarkan identifikasi masalah di
atas, peneliti
menemukan beberapa permasalahan, namun disini peneliti
hanya memfokuskan kepada hubungan penguasaan kalimat efektif dengan
kemampuan menulis teks pidato siswa
kelas IX MTsN Asamkumbang Bayang Utara.
Berdasarkan batsan masalah diatas rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu pertama,
“Bagaimana penguasaan kalimat efektif siswa kelas IX MTsN Asamkumbang? Kedua, bagaimana kemampuan menulis teks
pidato siswa kelas IX MTsN Asamkumbang? Ketiga,
bagaimana hubungan penguasaan kalimat efektif dengan kemampuan menulis teks
pidato siswa kelas IX MTsN Asamkumbang Bayang Utara?”
Sesuai dengan rumusan masalah di atas,
penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan pertama,
“penguasaan kalimat efektif siswa kelas IX MTsN Asamkumbang, kedua, kemampuan menulis teks pidato
siswa kelas IX MTsN Asamkumbang, ketiga, hubungan penguasaan kalimat efektif dengan
kemampuan menulis teks pidato siswa kelas IX MTsN Asamkumbang Bayang Utara.
Penelitian
ini diharapkan ada manfaatnya bagi dunia pendidikan. Adapun manfaat dari
penelitian adalah sebagai berikut :
Secara
umum penelitian ini memberikan sumbangan perbaikan pembelajaran dalam peningkatan
prestasi belajar siswa.
Dilihat
dari segi praktis hasil penelitian ini dapat bermanfaat memberikan masukan
kepada siswa dan guru menulis teks pidato dengan menggunakan kalimat efektif,
agar pesan yang disampaikan dalam pidato dapat dimengerti oleh pembaca atau
pendengar. Serta, informasi yang terungkap lewat penelitian ini diharapkan
dapat digunakan oleh para guru dan siswa, sehingga pada akhirnya dapat
meningkatkan prestasi belajar bidang studi bahasa Indonesia.
Secara
operasional, istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini dapat
didefinisikan sebagai berikut:
1. Hubungan
adalah adanya keterkaitan antara yang satu dengan yang lain.
2. Kalimat
efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan maupun tanda
bacanya sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Dengan kata
lain, kalimat efektif mampu menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada
pendengar atau pembacanya seperti apa yang dimaksudkan oleh penulis.
3. Menulis merupakan kemampuan mengungkapkan
gagasan, pokok-pokok pikiran, dan perasaan, dengan menggunakan pokok-pokok
kalimat, memilih istilah dengan kosakata yang tepat, dan menggunakan ejaan yang
sesuai.
4. Menulis teks pidato adalah pengungkapan
pikiran dalam bentuk kata-kata dengan memperhatikan ketentuan bahasa, isi, dan
sistematika pidato secara tertulis.
KAJIAN PUSTAKA
Kajian
teoritis dalam penelitian ini ada lima. Kelima teori tersebut adalah (1)
hakikat menulis (pengertian dan tujuan menulis); (2) hakikat pidato (pengertian
pidato dan struktur pidato); (3) efektivitas kalimat dalam menulis teks pidato;
(4) indikator penilaian
Kajian teori yang akan dibahas pada
hakikat menulis adalah (a) pengertian menulis, (b) tujuan menulis.
a. Pengertian
Menulis
|
Darmadi
(1996, 11) menyatakan bahwa menulis atau mengarang itu diibaratkan seperti naik
sepeda yang harus menjaga keseimbangan. Menulis bisa dianggap mudah apabila
seorang sering berlatih menulis dan bisa dianggap sukar bila seorang baru
terjun atau berlatih menulis sehingga tidak tahu harus memulai dari apa.
Menurut
Tarigan (2008:2), menulis ialah menurunkan lambang-lambang atau grafik yang
menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga seseorang atau
orang lain dapat membaca lambang-Lambang
grafik tersebut kalau mereka memahamibahasa dan gambaran grafik itu. Semi (2007: 14) dalam bukunya mengungkapkan pengertian menulis adalah
suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan.
Burhan Nurgiantoro (1988: 273) menyatakan bahwa menulis adalah aktivitas aktif
produktif, yaitu aktivitas menghasilkan bahasa.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu
kemampuan seseorang untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, pengetahuan dan
pengalaman-pengalaman hidupnya melalui bahasa tulis yang jelas sehingga pembaca
mengerti apa yang dimaksud penulis.
b.
Tujuan menulis
Dalam
menulis terdapat banyak tujuan yang ingin dicapai. Biasanya antara penulis satu
dengan yang lain memiliki tujuan yang berbeda-beda. Sehubungan dengan itu, Tarigan
(1994:24) mengkategorikan tujuan
menulis,yaitu memberitahukan atau mengajar, meyakinkan atau mendesak, menghibur
atau menyenangkan, dan mengutarakan atau mengekspresikan perasaaan yang
berapi-api.
Menurut Syafie’ie (1988: 51-52), tujuan menulis diklasifikasikan sebagai
berikut:
1.
Mengubah keyakinan pembaca
2.
Menanamkan pemahaman sesuatu terhadap pembaca
3.
Memberitahu pembaca
4.
Memotivasi pembaca
Sedangkan, menurut Semi (2007: 14) tujuan menulis antara lain:
a) untuk menceritakan sesuatu, b) untuk memberikan petunjuk atau pengarahan, c)
untuk menjelaskan sesuatu, d) untuk meyakinkan, dan e) untuk merangkum.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan
menulis, yaitu: (1) menginformasikan segala sesuatu, (2) memotivasi pembaca,
(3) menghibur.
Kajian teori yang akan dibahas pada
hakikat menulis adalah (a) pengertian pidato, (b) pengertian teks pidato, (c) struktur
pidato.
a. Pengertian
Pidato
Menurut
Hadinegoro (2003: 1) pidato sebagai pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata
yang ditujukan kepada orang lain atau wacana yang disampaikan untuk diucapkan
di depan khalayak. Sedangkan, menurut
Abdurrahman pidato adalah menyampaikan uraian secara lisan tentang sesuatu hal
(masalah) dengan mengutarakan keterangan sejelas-jelasnya di depan orang
banyak.
Jadi,
dapat kita simpulkan bahwa pidato adalah penyampaian dan penamaan pikiran,
informasi, atau gagasan dari pembicara kepada khalayak ramai.
b. Pengertian
Teks Pidato
Sahlan, dkk (2007:23) mengartikan teks
pidato sebagai naskah karangan yang berisi tulisan yang memuat segala masalah
yang akan diuraikan di dalam pidato. Isi teks pidato harus disusun secara
teratur dan berurutan. Selain itu, Wiyanto (2004: 2) mengungkapkan bahwa teks
pidato adalah penyampaian gagasan atau informasi kepada orang banyak secara
tertulis dengan cara-cara tertentu.
Berdasarkan pendapat ahli diatas, penulis
dapat menyimpulkan bahwa teks pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk
kata-kata dengan memperhatikan ketentuan bahasa, isi dan sistematika pidato
secara tertulis.
c. Struktur
teks pidato
Menurut Arief (2003: 142), struktur pidato
itu ada empat bagian yaitu pembukaan, isi, argument, dan penutup.
1. Bagian
pembukaan (oxordium), berisi salam keagamaan, salam penghormatan, doa dan
salawat, serta taktik membuka pidato.
2. Bagian
isi pidato (protesis), terdiri dari: maratio, yakni uraian dari isi pokok dan
propositio yakni tema pokok itu sendiri.
3. Bagian
alasan (argumental), ada dua, confirmatio alasan yang dikemungkakan untuk
menyatakan sesuatu yang baik itu benar-benar
baik (argumen positif) dan reputatio artinya alasan yang dikemungkakan untuk
menyatakan sesuatu yang buruk benar-benar buruk (argumen negatif).
4. Bagian
kesimpulan (conclutio), bagian yang mengakhiri pidato berfungsi untuk menutup
untuk keseluruhan urain pidato.
d. Karakteristik
teks pidato
Karakteristik
teks pidato adalah sebagai berikut :
1. Baik
penyajian atau penulisan teks pidato dapat dimengerti dan dipahami oleh pembaca
dari berbagai latar belakang.
2. Dalam
teks pidato terdapat curahan jiwa atau unsur-unsur emosional.
3. Penggunaan
bahasa dalam teks pidato lugas serta ditandai dengan pemakaian kalimat yang
efektif.
e. Indikator
penilaian kemampuan menulis teks pidato
Berdasarkan stuktur menulis teks pidato
yang dikemukakan oleh Arief (2003: 142), maka dirumuskan indikator penilaian
kemampuan menulis teks pidato dalam penelitian ini yaitu (1) pembukaan, (2) isi
(3) argument, (4) kesimpulan.
Penguasaan adalah pemahaman atau
kesanggupan untuk menggunakan pengetahuan, kepandaian dan sebagainya. (KBBI,
1991: 213).
a. Pengertian
Kalimat Efektif
Menurut Rozak (1990: 8), kalimat
efektif adalah yang memperlihatkan bahwa proses penyampaian oleh
pembicara/penulis dan proses penerimaan oleh pendengar/pembaca berlangsung
dengan sempurna sehingga isi atau maksud yang yang disampaikan oleh
pembaca/penulis tergambar lengkap lewat pikiran pendengar/pembaca. Pesan yang
diterima oleh pendengar atau pembaca sama dengan yang dikehendaki oleh
pembicara/penulis.
b. Ciri-ciri kalimat
efektif
Manaf
(1999:119) menyatakan ciri-ciri kalimat efektif sebagai berikut.
1. Tepat pilihan kata, untuk memilih
kata yang tepat, diperlukan pertimbangan, ketepatan konsep dan ketepatan nilai
rasa.
2. Tepat tata bahasa, mencangkup tata
intrakata dan tata antarkata.
3. Tidak terlalu kompleks dan
strukturnya tidak berbelit-belit, kalimat yang terlalu panjang memaksa penyimak
atau pembaca mengingat informasi yang terlalu banyak sehingga sebagian
informasi terlupakan atau tertimbun yang lain. Struktur yang berbelit-belit
membuat pikiran penyimak atau pembaca tersita untuk mengotak atik struktur
kalimat agar kalimat itu dapat dipahami.
4. Cukup unsur kalimatnya, kalimat yang
cukup unsur-unsurnya dapat dipahami secara mudah dan tepat, unsur kalimat itu
terdiri atas kata, fungsi sintaksis, dan tanda baca.
5. Tidak ada unsur yang mubazir, unsur
mubazir dalam kalimat mengakibatkan kalimat tidak efektif sehingga pembaca
susah mengetahui gagasan kalimat yang disampaikan.
6. Tepat ejaan, ejaan dan tanda baca
adalah simbol-simbol yang mewakili bunyi bahasa, kesalahan penggunaan simbol
bahasa mengakibatkan kalimat sulit dipahami bahkan menimbulkan salah tafsir.
Gorys Keraf (2001: 36) berpendapat
bahwa kalimat efektif mempunyai ciri ciri sebagai
berikut:
1. Kesatuan
gagasan
Setiap
kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, maksudnya
mengandung satu ide pokok. Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan
dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan yang lain yang tidak
mempunyai hubungan sama sekali.
2. Koherensi
yang baik dan kompak
Koherensi
atau kepaduan yang baik dan kompak merupakan hubungan timbal balik yang baik
dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat
itu. Bagaimana hubungan antara subyek dan predikat, hubungan antara predikat
dan obyek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur
pokok tadi.
3. Penekanan
Gagasan
utama yang terkandung dalam tiap kalimat haruslah dibedakan dari sebuah kata
yang dipentingkan. Kata yang dipentingkan harus mendapat tekanan atau harus
lebih ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain. Penekanan pada suatu kata yang
penting biasanya lebih mudah digunakan pada penggunaan bahasa lisan.
4. Variasi
Variasi
merupakan upaya menganekaragamkan bentuk-bentuk bahasa agar tetap terpelihara
minat dan perhatian orang. Hal tersebut dilakukan karena pemakaian bentuk yang
sama secara berlebihan akan menghambarkan selera pembaca.
5. Paralelisme
Paralelisme
menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu
struktur gramatikal. Paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi
kejelasan dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat
dalam gramatikal yang sama.
6. Penalaran
atau logika
Struktur
gramatikal yang baik bukan merupakan tujuan dalam komunikasi, tetapi sekedar
merupakan suatu alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud dengan
sejelas-jelasnya. Hal yang dimaksud adalah jalan pikiran atau juga disebut
penalaran atau logika. Jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha
untuk menghubung-hubungkan evidensi-evidensi menuju kepada suatu kesimpulan
yang masuk akal.
Berbeda dari beberapa pendapat di
atas, Atar Semi (1990: 143) mengemukakan ciri-ciri kalimat efektif sebagai
berikut:
a. Sesuai
dengan tuntutan bahasa baku artinya
kalimat itu ditulis dengan memperhatikan cara pemakaian ejaan yang tepat,
menggunakan kata/istilah baku /sudah umum digunakan sesuai dengan kaidah tata
bahasa.
b. Jelas yaitu kalimat itu mudah
ditangkap maksudnya. Maksud yang diterima pembaca sama dengan maksud yang
dikandung penulis.
c. Ringkas
atau lugas, kalimat
itu tidak berbelit-belit. Dengan menggunakan kata-kata yang sedikit dapat
mengungkapkan banyak gagasan.
d. Adanya
hubungan yang baik (koherensi) antara satu kalimat dengan kalimat yang lain,
antara satu paragraf dengan paragraf yang lain. Artinya kalimat yang digunakan
memperhatikan suatu kesatuan dengan yang lain.
e. Kalimat
harus hidup, kalimat
yang digunakan adalah kalimat yang bervariasi. Variasi tersebut tentang pilihan
kata, urutan kata dalam kalimat, bentuk kalimat, gaya bahasa, perumpamaan dan
perbandingan, dan panjang pendek kalimat.
f. Tidak
ada unsur yang tidak berfungsi , setiap
kata yang digunakan ada fungsinya, setiap kalimat yang digunakan dalam paragraf mempunyai
fungsi tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kalimat efektif yaitu (1) sesuai
dengan tuntutan bahasa baku, (2) koherensi, (3) tepat pilihan kata.
c. Indikator
penilaian penguasaan kalimat efektif
Sesuai
uraian ciri-ciri kalimat efektif (Keraf, 2001: 36), maka indikator penilain
penguasaan kalimat efektif yaitu (1) Kesatuan gagasan, (2) Koherensi yang baik
dan kompak, (3) Penekanan, (4) Variasi, (5) Paralelisme, (6) Penalaran atau
logika
Kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta
dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud
penulis/pembicara. Abdul Rozak (1990: 8) berpendapat bahwa kalimat efektif
adalah kalimat yang mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu
tergambar lengkap dalam pikiran penerima (pembaca) persis seperti apa yang disampaikan.
Menulis
teks pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata dengan
memperhatikan ketentuan bahasa, isi, dan sistematika pidato secara tertulis.
Menulis pidato salah satu kemampuan yang penting dan harus dikuasai oleh siswa.
Hal ini disebabkan kegiatan menulis pidato merupakan kegiatan yang muncul dari
gagasan kreatif yang dapat melatih siswa berkreasi dan bernalar. Selain itu,
dalam menulis teks pidato siswa diharapkan dapat mengungkapkan gagasan-gagasan
dan ide-ide pemikiran semenarik mungkin, serta kalimat yang digunakan adalah
kalimat yang efektif agar tulisannya diterima oleh masyarakat.
Kalimat efektif sangat berhubungan erat dengan menulis
teks pidato, jika siswa tidak mampu menguasai kalimat efektif, maka teks pidato yang ditulis akan sulit dimengerti oleh
pembaca ataupun pendengar, pesan yang
disampaikan tidak akan sampai pada pembaca atau penulis.
Berdasarkan tinjauan
pustaka ditemukan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan
penulis teliti, ditemukan
penelitian Yersi Oktavia (2008) dengan judul “kemampuan menggunakan kalimat
efektif dalam teks pidato siswa kelas X SMA Negeri 13 Padang”. Penelitian yang
dilakukan oleh Yersi Oktavia, dibatasi pada kemampuan menggunakan kalimat
efektif dalam teks pidato. Dalam penelitian tersebut kemampuan menulis siswa
meningkat. Selain itu, juga ditemukan Yudia Siska
Anggraini (2013) dengan judul “hubungan penguasaan kalimat efektif dengan
kemampuan menulis pesan singkat siswa kelas VII SMP 3 Bayang”. Penelitian yang
dilakukan bertujuan untuk mengetahui: (1) penguasaan kalimat efektif, (2)
kemampuan menulis pesan singkat, (3) hubungan penguasaan kalimat efektif dengan
kemampuan menulis pesan singkat siswa kelas VII SMP 3 Bayang.
Penelitian ini berbeda dengan
penelitian yang terdahulu. Pada penelitian pertama oleh Yersi Oktavia
perbedaannya terletak pada jenis penelitiannya yaitu penelitian deskriptif
dengan judul kemampuan menggunakan kalimat
efektif dalam teks pidato siswa kelas X SMA Negeri 13 Padang. Pada penelitian kedua oleh Yudia Siska Anggraini
perbedaannya terletak pada variabel terikatnya yaitu kemampuan menulis pesan
singkat. Dengan judul “hubungan penguasaan
kalimat efektif dengan kemampuan menulis pesan singkat siswa kelas VII SMP 3
Bayang”. Sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti
saat ini yaitu “hubungan penguasaan kalimat efektif dengan kemampuan menulis
teks pidato siswa kelas IX MTsN Asamkumbang.
C. Kerangka
konseptual
Menulis
naskah pidato pada hakikatnya adalah menuangkan gagasan ke dalam bentuk bahasa
tulis yang siap dilisankan. Penguasaan dan penggunaan kalimat efektif dalam menulis teks pidato
sangat penting, karena dengan menguasai kalimat efektif, menulis sebuah teks
pidato akan mudah. Maksud dan tujuan yang disampaikan dalam teks pidato
tersebut akan dipahami oleh pembaca atau pendengar. Teks pidato yang baik
dibangun oleh keefektifan suatu kalimat yang digunakan. Untuk lebih jelasnya
digambarkan dalam kerangka konseptual berikut ini:
![]() |
Bagan
kerangka konseptual
Keterangan:
Penguasaan
kalimat efektif : variabel x
Menulis
teks pidato : variabel y
Variabel
x : variabel bebas
Variabel
y : variabel terikat
Hipotesis atau jawaban
sementara dalam penelitian ini yaitu terdapatnya hubungan yang signifikan
antara penguasaan kalimat efektif dengan kemampuan menulis teks pidato siswa
kelas IX MTsN Asamkumbang. H1
diterima jika t hitung > t tabel pada dk (n-2) dan taraf signifikan 95%, dan
H0 diterima jika t hitung
< t tabel pada dk (n-2) dan taraf signifikan 95%.
H1: jika terdapat
hubungan yang signifikan antara penguasaan kalimat efektif dengan keterampilan
menulis teks pidato siswa kelas IX MTsN Asamkumbang. H1 diterima jika t hitung
> t tabel pada dk (n-2) dan taraf signifikan 95%.
H0: jika tidak terdapat
hubungan yang signifikan antara penguasaan kalimat efektif dengan kemampuan
menulis teks pidato siswa kelas IX MTsN Asamkumbang. H0 diterima jika t hitung
< t tabel pada dk (n-2) dan taraf signifikan 95%.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul
Rozak.1990. Kalimat efektif: Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Abdurrahman, Emha. ______.Tehnik dan
Pedoman Berpidato. Surabaya: CV. Amin
Arief,
Ermawati. 2003. “Pengajaran Keterampilan Berbicara”. Buku Ajar. Padang: FBSS UNP.
Darmadi,
Kaswan. 1996. Meningkatkan Kemampuan Menulis Panduan untuk Mahasiswa
dan Calon Guru. Yogyakarta: Andi.
Depdiknas.
1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
_______.
2006. Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional. Dimyati dan
Mujiono.
Gorys
Keraf. 2001. Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah.
Hadinegoro.
2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir ( Dalam teori dan Praktek). Yogyakarta:
Absolut
Manaf,
Ngusman Abdul. 2010. Sintaksis dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang:
Sukabina Press.
Sahlan.
2007. Materi Dasar Bahasa Indonesia. FKIP Universitas Haluleo.
Semi,
M. Atar. 1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.
Semi,
Atar. 2007. Dasar-dasar keterampilan menulis. Bandung: Angkasa
Syafie’ie,
Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Jakarta: P2LPTK Depdikbud.
Tarigan. 1994. Menulis Sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan,
Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
Wiyanto,
Asul. 2004. Terampil Pidato. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar